Cara Mendapatkan Pulsa dari Aplikasi mCent. 100% work

Saturday, January 9, 2016
Posted by BLOG SEDERHANA

Menurut saya mcent adalah aplikasi yang mudah untuk mendapat pulsa,.. salah satunya dengan cara download aplikasi kita akan dibayar dengan pulsa,..
syarat utama harus android, tidak boleh apke hp yang lain.

langsung saja caranya sebagai berikut :
  1. download aplikasinya di sini
  2. setelah selesai download instal dan buka aplikasinya
  3.  selanjutnya mendaftar dengan isi no anda (terserah kartu ap) dan passwoard.
  4. setelah berhasil mendaftar silahkan ikuti promo yang ada, setiap aplikasi sudah diberi lebel jumlah pulsa.
  5. setelah terkumpul anda bisa mengirim pulsa tersebut ke no hp yang anda gunakan untuk daftar tadi. 

13 Type Dosen Kesukaan Mahasiswa

Friday, January 8, 2016
Posted by BLOG SEDERHANA
Tag : ,

Titrasi Asam Basa

Posted by BLOG SEDERHANA


A. Prinsip Dasar
Titrasi netralisasi adalah titrasi yang didasarkan pada reaksi antara suatu asam dengan basa
H3O+ + OH– ⇔ 2 H2O
Dalam titrasi ini berlaku hubungan :
jumlah ekivalen asam (H3O+) sama dengan jumlah ekivalen basa (OH–).
Larutan baku yang digunakan pada titrasi netralisasi adalah asam kuat atau basa kuat, karena zat-zat tersebut bereaksi lebih sempurna dengan analit dibandingkan dengan jika dipakai asam atau basa yang lebih lemah. Larutan baku asam dapat dibuat dari HCl, H2SO4 atau HClO4, sedangkan larutan baku basa dibuat dari NaOH atau KOH. Larutan baku primer adalah larutan yang konsentrasinya dapat ditentukan dengan perhitungan langsung dari berat zat yang mempunyai kemurnian tinggi, stabil dan bobot ekivalen tinggi kemudian dilarutkan sampai volume tertentu. Sedangkan larutan baku sekunder, konsentrasinya harus ditentukan terlebih dahulu dengan pembakuan/standarisasi terhadap baku primer.
Contoh:
Baku primer              : Na2CO3, Na2B4O7, Kalium Hidrogen Ptalat (KHP), H2C2O4
Baku sekunder         : HCl, H2SO4, NaOH, KOH
Titrasi netralisasi dapat berlangsung antara asam kuat dengan basa kuat; asam/basa lemah dengan basa/asam kuat seperti:
NH4OH + H3O+ ⇔ NH4+ + 2H2O                 (basa lemah dengan asam kuat)
CH3COOH + OH– ⇔ CH3COO– + H2O      (asam lemah dengan basa kuat)
CH3COO– + H3O+ ⇔ CH3COOH + H2O    (garam dengan asam kuat)
NH4+ + OH– ⇔ NH3 + H2O                           (garam dengan asam kuat)
Kedua contoh terakhir di atas menggambarkan titrasi garam monofungsional. Garam-garam tersebut dalam air mengalami hidrolisis menghasilkan larutan yang bersifat asam atau basa. Apakah garam-garam ini dititrasi dengan asam atau basa bergantung pada nilai Ka dan Kb. Bila nilai Ka>Kb (larutan lebih bersifat asam), maka garam tersebut dapat dititrasi dengan basa, bila sebaliknya (Ka<Kb), garam tersebut dapat dititrasi dengan asam. Titik ekivalen dicapai pada pH larutan CH3COOH atau NH4OH.
Asam-asam poliprotik/polifungsional (H3PO4, H3AsO4) bila dititrasi dengan basa kuat dapat mempunyai titik ekivalen lebih dari satu.
H3PO4 + NaOH –> NaH2PO4 + H2O                       (Titik Ekivalen  I)
NaH2PO4 + NaOH –> Na2HPO4 + H2O                 (Titik Ekivalen II)
Titik ekivalen pertama ditentukan oleh pH larutan NaH2PO4/NaH2AsO4 dan titik ekivalen kedua oleh pH larutan Na2HPO4/Na2HAsO4. Garam-garam tersebut karena dapat terhidrolisis menjadi asam dan basa maka untuk:
Titik Ekivalen  pertama        : [H3O+] = √K1K2
Titik Ekivalen  kedua           : [H3O+] = √K2K3
Untuk garam-garam amfoter seperti NaHCO3, NaH2PO4, Na2HPO4 sifat larutannya ditentukan oleh nilai Ka dan Kb. Besarnya nilai Ka dan Kb menentukan apakah garam-garam tersebut sebaiknya dititrasi dengan asam atau basa. Bila nilai Ka>Kb maka sebaiknya garam tersebut dititrasi dengan basa kuat atau sebaliknya dengan asam kuat.
Seperti halnya asam-asam polifungsional, titrasi garam-garam seperti Na2CO3 dan Na3PO4 mempunyai titik ekivalen lebih dari satu. Garam tersebut dalam larutan bersifat basa sehingga dapat dititrasi dengan asam. Contoh:
CO32– + H3O+ ⇔ HCO3– + H2O
HCO3– + H3O+ ⇔ H2CO3 + H2O
Titik ekivalen pertama ditentukan oleh pH larutan NaHCO3 dan titik ekivalen kedua oleh pH larutan H2CO3

Titik akhir titrasi dan pemilihan indikator

Titik akhir titrasi ditentukan dengan memilih indikator yang warnanya berubah sekitar titik ekivalen. Misalnya pada titrasi larutan garam Na2CO3 dengan larutan HCl, titik ekivalen pertama terjadi pada [H3O+] = √K1K2 nilai pH sekitar 8,35. Jadi indikator yang dapat digunakan adalah fenolftalein (8,1 – 10) yang berubah dari merah menjadi tidak berwarna. Pada titik ekivalen kedua, [H3O+] = √Ka1 nilai pH = 3,17; dan indikator yang sesuai adalah jingga metil. Dengan indikator ini perubahan warna yang diamati kurang tajam. Untuk memperbaiki pengamatan pada titik ekivalen ini, larutan dapat dididihkan terlebih dahulu, sehingga gas CO2 keluar dan sifat larutan ditentukan oleh garam NaCl yang tertinggal. Kelebihan asam dititrasi dengan larutan baku basa, dengan demikian dapat digunakan indikator metil jingga.
Pada pemilihan indikator harus diperhitungkan pula zat apa yang digunakan sebagai titran (yang diisikan dalam buret). Misalnya pada titrasi larutan HCl dengan larutan NaOH. Jika larutan HCl dipakai sebagai titran, larutan analit bersifat basa, maka indikator fenolftalein yang ditambahkan pada analit berwarna merah. Hilangnya warna merah indikator terjadi pada pH 8,1; sedangkan titik ekivalen titrasi terdapat pada pH 7,0. Jadi hilangnya warna merah terjadi sebelum titik ekivalen tercapai. Karena itu sebaiknya dipakai indikator dengan trayek perubahan warna pada sebelum atau sekitar pH 7,0.


B. Percobaan I

  1. Tujuan percobaan:

  • Dapat menyiapkan larutan asam, membakukannya dan mengaplikasikannya untuk menentukan kadar suatu zat.
  • Dapat merancang prosedur penentuan kadar basa/garam
  1. Bahan:

  • HCl(p)
  • Na2B4O7 padat
  • Na2CO3 padat
  • Campuran larutan NaOH + Na2CO3, Na2CO3 + NaHCO3, Na2CO3
  • Indikator

  1. Cara kerja


  • Penyiapan larutan

1) Pembuatan larutan HCl yang normalitasnya kira-kira 0,1 N
  1. Sediakan labu ukur 250 mL, isilah dengan 150 mL air suling.
  2. Dengan menggunakan sebuah gelas ukur, ambil HCl pekat (kadar kira-kira 37%) sebanyak lebih kurang 2,5 mL dan masukkan ke dalam labu ukur tersebut.
  3. Tambahkan air suling sampai tepat tanda batas.
Peringatan:
Pada pengenceran asam pekat, asam harus ditambahkan ke dalam air, jangan sebaliknya.
2) Pembuatan larutan boraks 0,1 N
  1. Berat ekivalen Na2B4O7.10 H2O = 190,72. Timbanglah dengan teliti 1,9072 gram boraks pada sebuah botol timbang.
  2. Kemudian pindahkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 mL.
  3. Larutkan dengan air suling sampai tepat tanda batas.
3) Pembakuan larutan HCl dengan larutan boraks 0,1 N
  1. Siapkan buret 50 mL yang bersih dan bilaslah dengan sedikit larutan HCl yang akan dibakukan. Isilah buret tersebut dengan larutan HCl.
  2. Pipet 25 mL larutan boraks 0,1 N dengan menggunakan pipet gondok dan pindahkan ke dalam erlenmeyer yang bersih.
  3. Tambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator metil merah.
  4. Titrasi larutan ini dengan larutan HCl dari buret sampai larutan berubah warna menjadi merah muda.
  5. Ulangi titrasi sekali lagi dan hitunglah normalitas larutan HCl.
  • Aplikasi

1) Penentuan kadar karbonat (Na2CO3)
  1. Siapkan buret 50 mL yang bersih dan bilaslah dengan sedikit larutan HCl yang telah dibakukan. Isilah buret tersebut dengan larutan HCl.
  2. Encerkan sampel yang didapat pada labu ukur 100 mL sampai tanda batas dengan air suling.
  3. Pipet 25 mL larutan sampel dengan menggunakan pipet gondok dan pindahkan ke dalam erlenmeyer yang bersih.
  4. Tambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator fenolftalein.
  5. Titrasi larutan ini dengan larutan HCl dari buret sampai larutan berubah warna menjadi merah muda.
  6. Catat volume HCl yang dibutuhkan (V1).
  7. Kemudian tambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator metil jingga.
  8. Titrasi larutan ini dengan larutan HCl dari buret sampai larutan berubah warna.
  9. Catat volume HCl yang dibutuhkan (V2).
  10. Ulangi titrasi sekali lagi dan hitunglah kadar masing-masing senyawa yang terdapat dalam campuran.
     2) Penentuan kadar campuran karbonat
Lakukan percobaan yang sama dengan penentuan kadar karbonat untuk sampel campuran karbonat yang Anda terima.
  • Perhitungan:

Normalitas larutan HCl =
Campuran karbonat:
Bila     V1 = V2 maka senyawa yang terdapat adalah Na2CO3
V1 > V2 maka senyawa yang terdapat adalah NaOH dan Na2CO3
V1 < V2 maka senyawa yang terdapat adalah Na2CO3 dan NaHCO3

C. Percobaan II

1. Tujuan Percobaan

  • Dapat menyiapkan larutan basa, membakukannya dan mengaplikasikannya untuk penentuan kadar suatu zat.
  • Dapat merancang prosedur penentuan asam/garam
 2. Bahan
  • NaOH
  • KHP padat
  • Larutan H3PO4, H3PO4 + NaH2PO4, HCl + H3PO4

3.  Cara Kerja

  •  Penyiapan larutan

1) Pembuatan larutan baku NaOH yang normalitasnya kira-kira 0,1 N
Timbang dengan tepat 4,0077 gram NaOH dalam sebuah botol timbang dan larutkan dengan air suling dalam labu ukur 1 L dan tepatkan sampai tanda batas.
2) Pembuatan larutan KHP (Kalium Hidrogen Pthalat) 0,1 N
  1. Berat ekivalen KHP = 204,22 . Timbanglah dengan teliti 2,0422 gram KHP pada sebuah botol timbang.
  2. Kemudian pindahkan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 100 mL.
  3. Larutkan dengan air suling sampai tepat tanda batas.
3) Pembakuan larutan NaOH dengan larutan KHP 0,1 N
  1. Siapkan buret 50 mL yang bersih dan bilaslah dengan sedikit larutan NaOH yang akan dibakukan. Isilah buret tersebut dengan larutan NaOH.
  2. Pipet 25 mL larutan KHP 0,1 N dengan menggunakan pipet gondok dan pindahkan ke dalam erlenmeyer yang bersih.
  3. Tambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator fenolftalein.
  4. Titrasi larutan ini dengan larutan NaOH dari buret sampai larutan berubah warna menjadi merah muda.
  5. Ulangi titrasi sekali lagi dan hitunglah normalitas larutan NaOH.
  • Aplikasi

1) Penentuan kadar asam fosfat
  1. Siapkan buret 50 mL yang bersih dan bilaslah dengan sedikit larutan NaOH 0,1 N yang telah dibakukan. Isilah buret tersebut dengan larutan NaOH.
  2. Encerkan sampel yang didapat pada labu ukur 100 mL sampai tanda batas dengan air suling.
  3. Pipet 25 mL larutan sampel dengan menggunakan pipet gondok dan pindahkan ke dalam erlenmeyer yang bersih.
  4. Tambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator metil jingga.
  5. Titrasi larutan ini dengan larutan NaOH dari buret sampai larutan berubah warna menjadi jingga.
  6. Catat volume NaOH yang dibutuhkan (V1).
  7. Kemudian tambahkan 2 atau 3 tetes larutan indikator fenolftalein.
  8. Titrasi larutan ini dengan larutan NaOH dari buret sampai larutan berubah warna.
  9. Catat volume NaOH yang dibutuhkan (V2).
  10. Ulangi titrasi sekali lagi dan hitunglah kadar masing-masing senyawa yang terdapat dalam campuran.
2) Penentuan kadar campuran fosfat
Lakukan percobaan yang sama dengan penentuan kadar asam fosfat untuk sampel campuran fosfat yang Anda terima.
  1. Perhitungan

Normalitas larutan NaOH =
Campuran fosfat:
Bila     V1 = V2 maka senyawa yang terdapat adalah H3PO4
V1 > V2 maka senyawa yang terdapat adalah HCl dan H3PO4
V1 < V2 maka senyawa yang terdapat adalah H3PO4 dan NaH2PO4



sumber:bisakimia.com
 


Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari garam yang tidak mudah larut antara titrant dan analit. Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya) dengan menggunakan larutan standart perak nitrat AgNO3. Titrasi argentometri tidak hanya dapat digunakan untuk menentukan ion halide akan tetapi juga dapat dipakai untuk menentukan merkaptan (thioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion arsenat AsO43-.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.
Ag(NO3)(aq)  +  NaCl(aq) -> AgCl(s)  + NaNO3(aq)
Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan bereaksi dengan indicator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat CrO42- dimana dengan indicator ini ion perak akan membentuk endapan berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Inikator lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indicator adsorbsi. Berdasarkan jenis indicator dan teknik titrasi yang dipakai maka titrasi argentometri dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans. Selain menggunakan jenis indicator diatas maka kita juga dapat menggunakan metode potensiometri untuk menentukan titik ekuivalen.
Ketajaman titik ekuivalen tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk dari reaksi antara analit dan titrant. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan menghasilkan kurva titrasi argentometri yang memiliki kecuraman yang tinggi sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan, akan tetapi endapan dengan kelarutan rendah akan menghasilkan kurva titrasi yang landai sehingga titik ekuivalen agak sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dengan basa kuat dan anatara asam lemah dengan basa kuat.
METODE MOHR
Mohr mengembangkan titrasi argentometri untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral. Kalium kromat digunakan dalam titrasi argentometri dalam menentukan ion klorida, bromide, dan sianida. Larutan standar yang dipergunakan adalah perak nitrat (AgNO3). Prinsip penentuan ion Cl dengan titrasi argentometri adalah AgNO3 akan bereaksi dengan ion Cl membentuk endapan AgCl yang berwarna putih. Bila semua Cl- sudah habis bereaksi dengan Ag+ dari AgNO3,, maka kelebihan sedikit Ag+ akan bereaksi dengan CrO42- dari indikator K2CrO4 yang ditambahkan, ini berarti titik akhir titrasi telah dicapai, yaitu bila terbentuk warna merah bata dari endapan Ag2CrO4.
Reaksi :
Reaksi titrasi:     Ag+ + Cl- à   AgX(s) [putih]
Reaksi indikator:    2Ag+ + CrO42-  à    Ag2CrO4(s) [merah bata]
Tingkat keasaman (pH) larutan yang mengandung NaCl berpengaruh pada titrasi. Titrasi dengan metode Mohr dilakukan pada pH 8. Jika pH terlalu asam (pH < 6), sebagian indikator K2CrO4 akan berbentuk HCrO4-, sehingga larutan AgNO3 lebih banyak yang dibutuhkan untuk membentuk endapan Ag2CrO4. Pada pH basa (pH > 8), sebagian Ag+ akan diendapkan menjadi perak karbonat atau perak hidroksida, sehingga larutan AgNO3 sebagai penitrasi lebih banyak yang dibutuhkan.
METODA VOLHARD (KOMPLEKS BERWARNA)
Pada metode ini, sejumlah volume larutan standar AgNO3 ditambahkan secara berlebih ke dalam larutan yang mengandung ion halida (X-). Sisa larutan standar AgNO3 yang tidak bereaksi dengan Cl- dititrasi dengan larutan standar tiosianat ( KSCN atau NH4SCN ) menggunakan indikator besi (III) (Fe3+). Reaksinya adalah sebagai berikut :
METODE FAJANS
Metode ini menggunakan indikator adsorbsi. Indikator adsorbsi merupakan pewarna, seperti diklorofluorescein yang berada dalam keadaan bermuatan negative dalam larutan titrasi akan teradsorbsi sebagai counter ion pada permukaan endapan yang bermuatan positif. Dengan terserapnya ini maka warna indicator akan berubah dimana warna diklorofluorescein menjadi berwarna merah muda.

Dosen Killer

Posted by BLOG SEDERHANA


Predikat sebagai dosen killer adalah penghargaan atau gelar teringgi yang diberikan oleh sekumpulan mahasiswa untuk sang dosennya.

Dalam kamus besar bahasa Inggris – Indonesia, killer diartikan sebagai pembunuh, yakni orang yang melakukan perbuatan kekerasan sehingga dapat menghilangkan nyawa orang lain. Dosen killer adalah sebuah makna kias sebagai profesi seorang dosen. Hal itu bukan berarti dosen yang membunuh mahasiswa dalam artian menghilangkan nyawa, tetapi dosen yang sangat berpengaruh dalam menciptakan mahasiswa menjadi seorang yang bernalar kekerasan.
Killer dalam profesi dosen biasanya tidak melakukan kekerasan secara fisik, namun lebih bersifat pada kekerasan ranah ilmiah dan kekerasan mental (penghilangan kreatifitas). Dalam melakukan penilaian terhadap mahasiswa dosen killer biasanya mempunyai parameter tersendiri, istilah orang jawa menyebutnya “sak penake dewe”. Ia tidak mau eksistensinya sebagai seorang dosen (apalagi yang senior) disamakan, apalagi dibawah mahasiswa dalam hal keilmuan dan hubungan atau relasi dengan mahasiswa.
Kekerasan mental dan ilmiah ini bisa di lihat dalam proses belajar mengajar di kampus. Dalam mempertahankan eksistensi kedosenannya, ia bisa bersifat keras dan egois. Apalagi dalam menghadapi kelakuan mahasiswa yang “mbandel” dan “ngeyel” ketika melakukan debat/diskusi ilmiah. Karena merasa mempunyai derajat, eksitensi, dan segala label yang lebih dibanding mahasiswanya, maka semua ke-ngeyel-an itu tidak akan berarti apa-apa dihadapan dosen killer ini. Biasanya mahasiswa harus tunduk dan sendiko dawuh terhadap apa yang diperintahkan sang dosen. Jika perintah itu dilanggar, maka ganjaran yang akan diperoleh mahasiswa adalah tidak lulus atau diluluskan dengan nilai D, bahkan E.
Semua itu membuat mahasiswa akan merasa takut untuk bertindak. Karena resiko kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal bagi kelulusannya. Jika memang demikian maka tinggal tunggu saja tanggal main dan kehancurannya. Proses inilah yang disebut sebagai kekerasan ilmiah dan mental.

Kerja jantung.ppt

Saturday, November 28, 2015
Posted by BLOG SEDERHANA

Download DISINI

Teknologi Laboratorium Medis (TLM)

Monday, November 2, 2015
Posted by BLOG SEDERHANA


Teknologi Laboratorium Medis (TLM) atau Analis Kesehatan adalah profesi yang bekerja pada sarana kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan, pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang berasal dari manusia atau bahan bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan atau faktor-faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan masyarakat.
Sedangkan menurut KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200, Analis Kesehatan atau disebut juga Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah tenaga kesehatan dan ilmuan berketerampilan tinggi yang melaksanakan dan mengevaluasi prosedur laboratorium dengan memanfaatkan berbagai sumber daya.
Sarana kesehatan ini berbentuk Laboratorium Kesehatan seperti Laboratorium Patologi Klinik yang memeriksa sampel berupa cairan2 tubuh manusia seperti darah, sputum, faeces, urine, liquor cerebro spinalis (cairan otak), dan lain-lain untuk mendapatkan data atau hasil sebagai penegakan diagnosa terhadap suatu penyakit. Cakupannya juga luas meliputi pemeriksaan mikrobiologi (bakteri), parasitologi (fungi, protozoa, cacing), hematologi (sel-sel darah serta plasma), imunologi (antigen, antibodi), kimia klinik (hormon, enzim, glukosa, lipid, protein, elektrolit, dll).
Di Indonesia memang lebih sering dikenal dengan istilah Analis Kesehatan, sedangkan dunia internasional menggunakan istilah Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan.
Apa itu Teknologi Laboratorium Kesehatan?
Teknologi Laboratorium Kesehatan (internasional: Medical Laboratory Science/Technology) adalah disiplin ilmu kesehatan yang memberikan perhatian terhadap semua aspek laboratoris dan analitik terhadap cairan dan jaringan tubuh manusia serta ilmu kesehatan lingkungan.(KEPMENKES RI NOMOR 370/MENKES/SK/III/200)
Tugas Pokok TLM
Melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan meliputi bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi, imunologi-serologi, toksikologi, kimia lingkungan, kimia makanan-minuman, kimia air, patologi anatomi, biologi dan fisika
Fungsi TLM
  • Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses spesimen
  • Melaksanakan uji analitik terhadap reagen dan spesimen
  • Mengoperasikan dan memelihara peralatan/ instrumen laboratorium
  • Mengevaluasi data laboratorium
  • Mengevaluasi teknik, instrumen, dan prosedur baru laboratorium secara efektif dan efisien
  • Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium
  • Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang teknik kelaboratoriuman
  • Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan
Peran TLM
  1. Pelaksanaan teknis dalam pelayanan laboratorium kesehatan
  2. Penyelia teknis operasional laboratorium kesehatan
  3. Peneliti dalam bidang laboratorium kesehatan
  4. Penyuluh dalam bidang laboratorium kesehatan (Promotion Health Laboratory)
Kewajiban TLM
  1. Mengembangkan prosedur untuk mengambil dan memproses spesimen.
  2. Melaksanakan uji analitik terhadap reagen maupun terhadap spesimen, yang berkisar dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.
  3. Mengoperasikan dan memelihara peralatan laboratorium dari yang sederhana sampai dengan yang canggih.
  4. Mengevaluasi data laboratorium untuk memastikan akurasi dan prosedur pengendalian mutu dan mengembangkan pemecahan masalah yang berkaitan dengan data hasil uji.
  5. Mengevaluasi teknik, instrumen dan prosedur baru untuk menentukan manfaat kepraktisannya.
  6. Membantu klinisi dalam pemanfaatan yang benar dari data laboratorium untuk memastikan seleksi yang efektif dan efisien terhadap uji laboratorium dalam menginterpretasi hasil uji.
  7. Merencanakan, mengatur, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan laboratorium.
  8. Membimbing dan membina tenaga kesehatan lain dalam bidang Teknik kelaboratoriuman.
  9. Merancang dan melaksanakan penelitian dalam bidang laboratorium kesehatan.
Kemampuan yang Harus Dimiliki TLM
  1. Ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fungsinya di laboratorium kesehatan.
  2. Keterampilan dan pengetahuan dalam pengambilan spesimen, termasuk penyiapan pasien (bila diperlukan), labeling, penanganan, pengawetan, atau fiksasi, pemrosesan, penyimpanan dan pengiriman spesimen.
  3. Keterampilan dalam melaksanakan prosedur laboratorium.
  4. Keterampilan dalam melaksanakan metode pengujian dan pemakaian alat dengan benar.
  5. Keterampilan dalam melakukan perawatan dan pemeliharaan alat, kalibrasi dan penanganan masalah yang berkaitan dengan uji yang dilakukan.
  6. Keterampilan dalam pembuatan uji kualitas media dan reagen untuk pemeriksaan laboratorium.
  7. Pengetahuan untuk melaksanakan kebijakan pengendalian mutu dan prosedur laboratorium.
  8. Kewaspadaan terhadap faktor yang mempengaruhi hasil uji.
  9. Keterampilan dalam mengakses dan menguji keabsahan hasil uji melalui evaluasi mutu spesimen, sebelum melaporkan hasil uji.
  10. Keterampilan dalam menginterpretasi hasil uji.
  11. Kemampuan merencanakan kegiatan laboratorium sesuai dengan jenjangnya.
Standar Profesi TLM
  • Dasar Hukum : Kepmenkes RI No : 370/Menkes/SK/III/2007
  • Merupakan dasar kewenangan bagi seorang tenaga Analis Kesehatan dalam melaksanakan pekerjaan profesionalnya di Laboratorium Kesehatan
  • Acuan standar kompetensi yang digunakan dalam standar pendidikan, pelayanan, uji kompetensi
Standar Kompetensi Menurut Jenjang Pendidikan
NO KOMPETENSI JENJANG
SMAK DIII SI
1. MENGUASAI ILMU PENGETAHUAN


1.1. Hematologi & Transfusi darah √ √ √
1.2. Kimia Klinik √ √ √
1.3. Serologi-Imunologi √ √ √
1.4. Mikrobiologi √ √ √
1.5. Toksikologi – √ √
1.6. Patologi Anatomi – √ √
1.7. Biologi Molekuler – √ √
1.8. Virologi – √ √
1.9. Kesehatan Lingkungan √ √ √
1.10. Komputer √ √ √
1.11. Manajemen – √ √
2. MAMPU MEMBUAT PERENCANAAN/MERANCANG PROSES


2.1. Alur kerja proses pemeriksaan di laboratorium – √ √
2.2. Alur keselamatan kerja di laboratorium – √ √
2.3. Menyusun prosedur baku di laboratorium – √ √
2.4. Menyusun prosedur cara ukur keberhasilan proses – – √
2.5. Menyusun program pemantapan mutu internal – – √
2.6. Menyusun program pemantapan mutu eksternal – – √
2.7. Merancang upaya keselamatan kerja di laboratorium – – √
3. MAMPU MELAKSANAKAN PROSES TEKNIS OPERASIONAL


3.1. Mengambil spesimen √ √ √
3.2. Menilai kualitas spesimen √ √ √
3.3. Menangani spesimen (labeling, penyimpanan, pengiriman) √ √ √
3.4. Mempersiapkan bahan/reagensia √ √ √
3.5. Memilih reagen & metoda analisa – √ √

3.6. Mempersiapkan alat √ √ √
3.7. Memilih/menentukan alat – √ √
3.8. Memeliharan alat √ √ √
3.9. Mengkalibrasi alat – √ √
3.10. Menguji kelaikan alat – √ √
3.11. Mengerjakan prosedur analisa bidang :


a. Hematologi sederhana – √ √
b. Hematologi khusus – √ √
c. Kimia klinik – √ √
d. Serologi-Imunologi sederhana – √ √
e. Serologi-Imunologi komplek √ √ √
f. Mikrobiologi sederhana √ √ √
g. Mikrobiologi khusus – √ √
h. Toksikologi – √ √
I . Patologi Anatomi – √ √

j. Biologi Molekuler – – √
k. Virologi (riset) – √ √
3.12. Mengerjakan prosedur dalam pemantapan mutu √ √ √
3.13. Membuat laporan administrasi √ √ √
4. MAMPU MEMBERIKAN PENILAIAN (JUDGMENT)


4.1. Mendeteksi secara dini keadaan spesimen yang berubah √ √ √
4.2. Mendeteksi secara dini perubahan kondisi alat/reagen/kondisi analisa √ √ √
4.3. Mendeteksi secara dini bila muncul penyimpangan dalam proses teknis operasional √ √ √
4.4. Menilai validitas rangkaian analisa atau hasilnya √ √ √
4.5. Menilai normal tidaknya hasil analisa untuk dikonsulkan kepada yang berwenang √ √ √
4.6. Menilai layak tidaknya hasil proses pemantapan mutu internal – √ √

4.7. Menilai layak tidaknya hasil proses pemantapan mutu eksternal – – √
4.8. Mendeteksi secara dini terganggunya keamanan lingkungan kerja – √ √
5. KEMAMPUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN


5.1. Perlunya koreksi terhadap proses/alat/spesimen/ reagensia – √ √
5.2. Perlunya koreksi terhadap proses pemantapan mutu internal – √ √
5.3. Perlunya koreksi terhadap proses pemantapan mutu eksternal – – √
Organisasi Profesi
Organisasi yang menaungi alumni Analis Kesehatan atau para Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan adalah PATELKI (Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia. Sedangkan organisasi yang menjadi wadah dan menjembatani pemikiran-pemikiran mahasiswa Analis Kesehatan adalah IMATELKI (Ikatan Mahasiswa Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia).
Prospek Kerja TLM
Banyak instansi dan perusahaan yang membutuhkan kompetensi seorang Analis Kesehatan, seperti Laboratorium Klinik Swasta, Rumah Sakit Pemerintah atau swasta, Laboratorium Kesehatan daerah, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Lab Forensik Kepolisian, Lembaga penelitian SAINS (LIPI, Biofarma), dosen. Analis Kesehatan ada yang bekerja di Laboratorium Patologi Anatomi yang memeriksa sampel berupa jaringan hasil operasi (histopatologi). Selain itu, banyak pula yang bekerja di industri makanan dan minuman, obat serta kosmetik karena dalam kurikulum pengajarannya terdapat mata kuliah Kimia Analitik, Kimia Makanan dan Minuman, serta Toksikologi.
 Pendidikan Lanjutan
Setelah lulus dan mendapat gelar A.Md A.K., kita bisa melanjutkan pendidikan ke S1 atau DIV. Contohnya:
  • S1 Kesehatan Masyarakat, Farmasi, Kimia, Biologi
  • DIV Analis Kesehatan

Followers

Welcome to My Blog

- Copyright © Blog Sederhana -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -